TTG *BJ HABIBI.*
*KALAULAH SEMPAT ... ?*
---------------------------------
_(Ketika BJ Habibie berpidato diKairo,_
_beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang,_
_tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih manfaat untuk umat Islam._
_Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama.")_
Sepi penghuni ...
Istri sudah meninggal ...
Tangan menggigil karena lemah ...
Penyakit menggerogoti sejak lama ...
Duduk tak enak,
berjalan pun tak nyaman ...
Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu ...
Tiga anak,
semuanya sukses ...
Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri ... »
Ada yang sekarang berkarir di luar negeri ... »
Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi ... »
Dan ada pula yang jadi pengusaha ...
Soal Ekonomi,
saya angkat dua jempol ... »
Semuanya kaya raya ...
Namun ...
Saat tua seperti ini dia 'Merasa Hampa',
ada 'Pilu Mendesak' disudut hatinya ... ...
Tidur tak nyaman ... »
Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yang penuh kenangan ... »
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian,
tiada suara anak, cucu,
hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur ...
Punggungnya terasa sakit,
sesekali air liurnya keluar dari mulutnya ...
Dari sudut mata ada air yang menetes ...
Rindu dikunjungi anak2nya ...
Tapi semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain ...
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan ...
Sudah terlanjur melemah ...
Begitu lama waktu ini bergerak,
tatapannya hampa,
jiwanya kosong,
hanya gelisah yang menyeruak ...
Sepanjang waktu ....
• Laki-laki renta itu,
barangkali adalah Saya ...
• Atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti ... ...
• Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti ...
• Yang pasti hanyalah KEMATIAN.
» Rumah Besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya ...
» Anak Sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC ...
» Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang ...
» Asset-asset produktif yang terus menghasilkan,
entah untuk siapa ... ?
Kira-kira jika malaikat 'Datang Menjemput',
akan seperti apakah kematiannya nanti.
» Siapa yang akan memandikan ?
» Dimana akan dikuburkan ??
» Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan ?
» Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti ?
» Rumah akan di tinggal,
asset juga akan di tinggal pula ...
• Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
• Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
• Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama ???
Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja ...
🍀 'Kalau lah Sempat' menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah,
Rumah Yatim,
Panti Asuhan atau ke tempat2 di Jalan Allah yang lainnya ...
🍀 'Kalau lah Sempat' dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang ... ...
🍀 'Kalau lah Sempat' memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yg memerlukan ... ...
🍀 'Kalau lah Sempat' membelikan buah buat tetangga, kenalan,
kerabat dan handai taulan ... ...
🍀 Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama,
mungkin itu semua akan menjadi 'Amal Penolong' nya ... ...
🍀 Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang Shaleh',
dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan ...
🍀 Ibadah dan sedekahnya di bimbing / diajarkan dan diperhatikan,
maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam',
'Meneteskan Air Mata' medoakan orang tuanya.
🍀 Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama ...
*"KALAULAH SEMPAT ..."*
Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ?
Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri.
Kenapa kita tidak lebih serius 'Menyiapkan Bekal' untuk menghadap-NYA dan 'Mempertanggung Jawabkan' kepadaNya ?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang bisa melalaikan ... ...
🌸 Kita boleh saja giat berusaha di dunia ...
Tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal di akhir Hidup kita ...
( yang menulis dan menyebarkan catatan ini semoga menjadi sodaqoh ilmu dan ladang amal Shaleh.)
Teruslah menjadi Pejuang Dakwah dan menabur Kebajikan selama hayat masih dikandung badan meski hanya dgn sepotong Ayat Al-Quran atau Hadist ...
Semoga Bermanfaat ... !
Tiap Bangunan Konstruksi Itu Berbeda
Leave a reply
Kami pernah mendapat pertanyaan singkat, "Pak, kalo untuk balok bentangan 5 m, ukuran dan pembesiannya berapa ya?"
Waduh..! Ada yang bisa jawab ngga? Bukannya nggak bisa… tapi kalau mau dituliskan, jawabannya bisa dijadikan satu buku tersendiri. Jadi, daripada saya buang energi menghabiskan tenaga, saya lebih baik bertanya balik kepada si penanya.
Yang mau saya tanyain antara lain:
- Bangunannya untuk apa? Rumah? Hotel? Gudang? Kantor?
- Baloknya menerus atau tunggal? Kalo menerus, berapa jumlah bentang, dan posisi balok tersebut ada di mana?
- Posisi terhadap pelat lantai ada di mana? Di tengah (balok T), di ujung (balok L), atau nggak ada pelat lantai (balok persegi)
- Apakah ada dinding di atas balok tersebut?
- Apakah ada beban khusus di atas balok/lantai tersebut? Misalnya genset?
- Kasur Raksasa? Atau pohon kurma?
- Berapa mutu beton yang diinginkan?
- Baloknya termasuk balok induk atau bukan (balok anak)?
- Kalau balok induk, apakah memikul gempa atau tidak?
- Apa lagi ya??… Nanti kalo kurang data saya tanya lagi deh.
Hehehehe… ribet kan? Daripada si penanya repot-repot menjawab, mending kirim aja gambar rencananya ke ahli struktur atau sejenisnya (yang jelas bisa ngitung struktur) Selesai perkara, tinggal duduk manis tunggu laporan dan hasilnya.
Pesan moral:
"Setiap bangunan konstruksi punya karakteristik masing-masing, sehingga tidak dapat digeneralisasi antara satu bangunan dengan bangunan yang lain, KECUALI jika bangunan tersebut memiliki BANYAK kemiripan sifat/karakteristik dengan yang bangunan lain"
Misalnya ada dua model struktur yang serupa, jumlah lantainya sama, bentang dan tinggi kolomnya sama, beban-beban permanennya sama, dan berada pada satu wilayah yang sama, katakanlah sama-sama di Jakarta, kalo mau spesifik lagi anggap saja bangunan itu adalah ruko.. hehe. Ternyata…ukuran balok dan kolomnya bisa beda, karena setelah diselidiki, bangunan yang satu berdiri di atas tanah yang termasuk kategori "tanah lunak" sementara yang lainnya di atas "tanah sedang".
Samain aja, gan.. ambil yang terbesar, trus digeneralisasi
Yaaa.. kalo seperti itu sih nggak masalah, proses desain bisa hemat waktu. Trik beberapa perencana struktur adalah seperti itu, untuk desain awal (preliminary) dihantam dengan ukuran yang besar-besar (yang masih masuk akal tentu saja). Saat desain itu direview oleh klien, perencana bisa punya waktu untuk melakukan perhitungan lebih detail sekaligus melakukan optimalisasi sehingga lebih ekonomis.
Kalo hitung balok pake rumus praktis yang L/10 sampai L/14 itu bisa nggak?
Bisa, tapi itu buat asumsi awal saja, untuk mempercepat perhitungan. Bukan buat desain akhir. Jadi, kalo panjang bentangnya 5 m, tinggi balok bisa kita coba dari 400 mm sampai 500 mm. Tinggal mencari lebarnya, kebutuhan tulangannya, dan mengecek lendutannya. Dan untuk itu kita harus tau berapa bebannya, bagaimana layoutnya, dll.. kembali ke pertanyaan di atas lah pokoknya. Nggak jarang dimensi struktur berbenturan dengan desain arsitek maupun planning dari M/E (Mekanikal & Elektrikal), sehingga harus disesuaikan lagi. Yang penting, selama syarat kekuatan dan kekakuan struktur terpenuhi, insya Allah perencana struktur bisa tidur dengan nyenyak.
Gan, untuk balok 5 m tadi, kalo saya pake ukuran 250 x 450, tulangannya 4D16 atas bawah.. kira-kira kuat nggak?
Sering sekali kami menerima pertanyaan yang mengandung kata "kira-kira". Kira-kira kuat nggak ya? Kalo mendapat pertanyaan seperti itu, ada dua jawaban: satu jawaban usil, satu lagi jawaban diplomatis.
Kalo jawaban usilnya adalah, "Dicoba dulu aja, kalo ambruk berarti nggak kuat.."
Tapi… kalo mau agak diplomatis, jawab aja seperti ini, "Selama tahanan strukturnya lebih besar daripada gaya dalam ultimate yang terjadi, struktur itu akan kuat".
Nah, kalo jawaban seperti ini, yang bertanya tentu akan ikut pusing. Mungkin karena males menghitung. Atau mungkin pusing karena nggak ada waktu buat menghitung. Atau pusing karena nggak tau cara ngitungnya bagaimana.
Sebenarnya ngitung itu gampang… yang susah adalah tanggung jawabnya. Sebagai seorang engineer, dengan data yang super minim, seberapa besar keberanian anda untuk memikul tanggung jawab atas kalkulasi yang anda berikan 
Solusinya gimana? Banyak. Salah satunya yang sering saya pakai. Kalau ada data yang kurang, saya akan membuat beberapa asumsi. Semakin minim datanya, semakin banyak asumsi yang akan kita buat. Setelah selesai analisis, dan hasilnya keluar, tinggal dikasih catatan… kalau ada salah satu kondisi aktual yang ngga sesuai dengan asumsi yang telah diambil, maka hasil analisis itu bukan tanggung jawab kita lagi. Selesai perkara. 
Nah… jadi tugas kita selanjutnya… tinggal bermain dengan asumsi-asumsi. Insya Allah dibahas di lain kesempatan.
[]semoga.bermanfaat[]




